Masih malu dengan nama sendiri? Simak pengalamanku mengatasinya!

Manusia diciptakan dengan nasib yang berbeda-beda. Ada yang terlahir di keluarga kaya, ada pula yang dilahirkan di keluarga serba kekurangan. Ada yang punya fisik sempurna, ada pula yang tak punya tangan dan kaki. Ada yang punya nama bagus dan berkelas, ada pula yang ***** 🙊
Hehe, bukan jelek ya. Hanya saja kurang elegan dan berkelas.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyindir siapapun, karena tulisan ini murni pengalaman hidup saya. Tulisan ini berisi bagaimana saya menemukan cara untuk melawan rasa malu dan terbiasa untuk memperkenalkan diri dengan baik di depan orang lain.

Kisah ini dimulai tepat 12 hari setelah runtuhnya Orde Baru. Lahir seorang anak perempuan yang entah kenapa diberi nama kelaki-lakian oleh kedua orang tuanya. Menginjak masa remaja, anak itu pun mulai kewalahan dengan nama nya sendiri, kehilangan kepercayaan diri untuk memperkenalkan diri di depan orang lain.
Anak itu adalah saya, dengan nama lahir Ponco Cahyawaty 😁 .............. (salam kenal)

 https://catspro.com/shy-cat-names.html

Sebenarnya, tidak banyak manusia yang memiliki kasus seperti ini. Di lingkungan kuliah dan kerja saya pun, tak banyak kasus serupa yang bisa ditemui. Paling hanya ada dua sampai tiga saja, seperti teman perempuan saya yang bernama Rio, dan juga adik tingkat saya yang namanya mengandung unsur merk kendaraan bermotor.

Punya nama aneh memang  terkadang menyusahkan. Tapi karena nama itu juga merupakan doa dari kedua orang tua, pastinya tetap harus kita syukuri. Lagipula, tidak ada orang tua yang ingin menyusahkan anaknya, kan? Jadi sebelumnya, apabila di antara kita masih ada yang menyalahkan orang tua, please stop it! Respect them, o.k 😉

Banyak pengalaman lucu dan mengesalkan bagi penyandang nama aneh.
Sudah tidak jarang saya dipanggil "Bapak" atau "Abang" apabila ada klien yang menghubungi saya via SMS maupun WhatsApp (saya dulu lumayan sering menjadi narahubung untuk kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus).
Saya dulu aktif menjadi tutor pendidikan karakter untuk mahasiswa baru. Untuk menjadi tutor, harus registrasi. Supaya admin registrasi tidak salah menempatkan saya ke kelompok laki-laki, saya harus menuliskan jenis kelamin setelah nama.
"Perkenalkan nama saya Ponco Cahyawaty (perempuan), dengan nomor induk I10111xxxxxx, ingin mendaftar sebagai tutor pendidikan karakter tahun ini."
Yang lebih sulit lagi, apabila bertemu dengan orang baru dan harus memperkenalkan nama. Ketika sampai giliran saya untuk memperkenalkan diri, pasti suasana tiba-tiba jadi awkward. Belum lagi kalau hadir di seminar, moderatornya jago bicara dan mengomentari nama saya yang mirip lelaki.
Respon saya? Ya senyum saja (walaupun kepala dan jantung memanas)


Ribet, kan? Karena rasa malu itu, saya mengorbankan beberapa kesempatan emas untuk unjuk gigi dengan kemampuan yang saya miliki, hanya karna supaya orang-orang tidak mengomentari nama saya. Padahal, seharusnya saya bisa lebih sukses sekarang apabila dapat menguasai diri dengan baik sejak remaja.

Tapi alhamdulillah, saya sudah menemukan solusi yang berhasil meningkatkan kepercayaan diri saat memperkenalkan diri kepada orang lain.

Sebagai catatan, tips ini bisa saja bekerja untuk kamu, bisa juga tidak berpengaruh sama sekali.
We have our own way to solve problems.
Happy reading!

------------

PERTAMA,
Karanglah cerita tentang asal mula terbentuknya nama kita.  

Rancanglah apa yang ingin kau sampaikan. Rasa percaya diri akan meningkat dengan perencanaan yang baik.

Kamu bisa tanya orang tua,
"Pak, Bu, kenapa kok aku dikasi nama ......(isi dengan nama kamu yang ingin ditanyakan latar belakangnya)?"
Kalau kamu beruntung, kamu bisa dapatkan sejarah namamu.

Kalau hal di atas tidak memungkinkan karna suatu dan lain hal, kamu bisa membuat sedikit kebohongan yang masuk akal seperti yang selama ini saya lakukan.

Perkenalkan, nama saya Ponco Cahyawaty. Dalam keluarga saya, semua anak diberi nama sesuai urutan bilangan Sanskerta (eka, dwi, tri, catur, panca). Saya adalah anak kelima dari enam bersaudara, jadi harusnya nama saya "Panca". Tapi karena bapak saya orang Jawa, saya dipanggil "Ponco".
Kutipan di atas adalah bagaimana karangan cerita saya saat digunakan untuk memperkenalkan diri di depan audiens dalam situasi semi-formal maupun informal (karena kalau acara formal, tak ada satu pun yang peduli dengan nama kita, I mean, komunikasi biasanya satu arah).

Dari kutipan di atas, terdapat dua fakta. Pertama, benar bahwa di dalam keluarga, kami diberi nama sesuai urutan bilangan Sanskerta. Kedua, benar bahwa bapak saya orang Jawa.
Dengan berpedoman pada dua fakta tersebut, saya membangun sebuah cerita. Dalam tata bahasa Jawa, seringkali huruf "A" dibaca "O", contohnya aksara Jawa yang ditulis "Hanacaraka" dibaca "Honocoroko". Akhirnya saya mengarang cerita bahwa huruf A dalam "Panca" diganti menjadi huruf O oleh bapak saya.
Kebohongan yang masuk akal, kan?

Dengan perkenalan diri seperti yang tertulis di atas, saya bisa sedikit banyak menguasai audiens. Kalau beruntung, mereka bisa tertawa dan dengan sendirinya bisa membangun mood kita untuk melanjutkan pembicaraan.

Bagaimana kalau tak cukup waktu untuk perkenalan sepanjang itu? Lihat di tips kedua. 

------------

KEDUA,
Lihat ekspresi wajah lawan bicara.  

Tips pertama tadi sebenarnya lebih efektif digunakan saat kita melakukan perkenalan di depan banyak orang, seperti saat seminar maupun workshop.
Bagaimana apabila kita hanya berkenalan dengan satu sampai tiga orang (dan berjabat tangan)?
--------lihat ekspresi wajahnya

Perhatikan ekspresi wajah lawan bicara saat percakapan berlangsung.

Setelah kita menyebutkan nama (dan berjabat tangan dengan lawan bicara), misal:
P adalah saya
P: (sambil jabat tangan) Saya Ponco Cahyawaty, bisa dipanggil Ponco.
apabila ekspresi lawan bicara biasa-biasa saja, abaikan.
apabila lawan bicara terlihat terheran-heran, jangan tunggu lama, katakan ini:
P: Tenang, saya perempuan. Hehehehe

Biasanya lawan bicara akan tersenyum dan pembicaraan berlanjut ke topik lainnya.
Kalau lawan bicara ternyata akhirnya bertanya tentang keunikan nama kita, ceritakan asal mula namamu sebagaimana yang sudah dilakukan di tips pertama.
Poinnya adalah jangan berikan kesempatan lawan bicara untuk merasa heran dalam waktu lama. Dahi yang mengernyit adalah salah satu contoh ekspresi heran lawan bicara. 

------------

KETIGA,
Waktunya kita menerapkan sikap "bodo amat".  

Bodo amat adalah sebuah sikap ketidak-pedulian kita terhadap suatu hal/kejadian yang sedang terjadi.
Sikap ini memang bukan sesuatu yang baik karena hakikat manusia adalah makhluk sosial. Namun, pada beberapa keadaan, sikap ini diperlukan.

Kenapa kita harus peduli dengan omongan orang lain di belakang kita? Padahal apa yang mereka tertawakan toh tidak mempengaruhi masa depan kita.


Memang sedih ketika orang lain mengenal kita karena nama yang cukup unik, ya.
Tapi, bodo amat lah. Nama yang unik terbukti membuat yang punya nama lebih terkenal. 

------------

KE-EMPAT,
Teruslah berkarya! 


Mungkin kita sudah tidak asing dengan kutipan berikut:
What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. - William Shakespeare
Sayangnya sebagian orang hanya tau bagian awal penggalannya saja. Padahal lanjutan kutipan tersebut sangat berguna untuk orang-orang seperti kita.

Apalah arti sebuah nama? Toh, bunga mawar kalau dipanggil dengan sebutan lain, harumnya tetap sama.

Iya kann?? 
Stop terbelenggu dalam kesesatan
Berhenti mengeluh ataupun khawatir dengan nama kita yang aneh ini. Bagaimanapun anehnya, karya yang kita hasilkan adalah milik kita. Dan ketika karya tersebut dikenal orang karena keelokannya, keanehan nama kita tak akan dibahas orang lagi. 
(Bahkan mungkin suatu saat nama kita ada dalam referensi nama untuk bayi) 😁

https://www.instagram.com/p/BtZrfWMhPkA/?igshid=1x2ehwmrveslv
Keluarkan karya terbaikmu dan tunjukkan pada dunia.

Tapi perlu diingat, menghasilkan karya hebat tidak semudah itu, Ferguso.
Kerja keras. Kalau jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi. Kalau kamu lelah, istirahat, bukannya mundur.

Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk menghasilkan karya yang hebat. Maka dari itu, demi masa depan yang gemilang, mari kita bekerja lebih giat!!!


-----------

Demikian yang bisa saya sampaikan. Kalau tips ini bekerja untuk kamu, atau kamu punya cara lain, jangan lupa tulis di kolom komentar, ya..
You have to understand your own personal DNA. Don't do things because I do them or Steve Jobs or  Cuban tried it. You need to know your personal brand and stay true to it. -Gary Vaynerchuk
Teruslah belajar dan kenali dirimu sendiri.


For your information:
Sesungguhnya terkadang hal yang masih saya sesali adalah kenapa nama saya ini berhubungan erat dengan jas hujan. Jadi kalau ada orang yang menyebut jas hujan dengan sebutan "Poncho", saya masih sering menyipitkan mata dan mengembangkan hidung (secara refleks) 😑
But it's just for fun! Jangan terlalu dipikirin. Jangan dimasukin ke hati. Hehehehehe

Semoga tulisan ini menginspirasi! 😘

https://id.pinterest.com/pin/683280574697942474


BANYAK KESEMPATAN TERLEWATKAN HANYA KARNA KAU TAK MAMPU MENGALAHKAN RASA MALU MU

-- Pon Hana --


Comments